Sunday, October 2, 2011

Secawan kopi bersama sebatang gudang garam (iii)

Telanjang aku telanjang-telanjang. tiada lagi orang-orang, tiada lagi langit-langit. Pejam mata melihat hitam-hitam, mencari putih dalam kehitaman. Rokok yang di hisap tadinya tinggal kenangan. Di padang hijau aku terbaring, rumputnya yang rendah-rendah dan basah-basah. Diam dan diam. diam diam diam. Bising-bising otak. Bising, bising bising bising. 

Secawan kopi panas nikmat rasanya, begitu juga gudang garam. Nikmat. Nikmat. Gurih. Aku buka celahan memori mencari rasa, rasa secawan kopi bersama-sama gudang garam. jumpa rasa, aku keluarkan dari minda, sekarang aku di temani dengan kopi panas halimunan bersama-sama dengan gudang garam halimunan. Aku duduk, lihat langit, keluarlah langit-langit, biarpun secara halimunan. Hirup-hirup, Sedut-sedut, halimunan-halimunan.  Nikmatnya secawan kopi bersama sebatang gudang garam.

Aku sendiri, aku sendiri dan aku sendiri

Aku sendiri, aku sendiri dan aku sendiri,
Masing-masing sendiri yang sendiri,
Masing-masing perhati sendiri yang sendiri
Sendiri, sendiri dan sendiri,
Sendiri-sendiri yang mencampuri,
Tapi tetap sendiri-sendiri,
Aku sendiri, aku sendiri dan aku sendiri.

Aku sendiri, aku sendiri dan aku sendiri
Aku sendiri itu  suka bersendiri-sendiri
Aku sendiri yang itu suka di temani,
Aku sendiri yang itu suka mencampuri,
Tapi aku sendiri tetapi aku sendiri,
Aku sendiri, aku sendiri dan aku sendiri.